Redi Tibuludji’s Weblog

April 23, 2008

Menelan Apa Yang Tidak Bisa Ditelan

Filed under: Diary — reditibuludji @ 10:33 pm
Tags:

Sesaat setelah Arsenal tersingkir dari Liga Champions 2007/2008, Arsene Wenger mencoba mengungkapkan apa yang dirasakan saat itu denagn mengatakan bahwa “Dalam sepakbola terkadang Anda harus menelan apa yang tidak bisa ditelan“(sumber: detik.com).

aku, dalam kehidupanku ini, kadang kala berhadapan dengan apa yang aku sebut pil pahit yang harus aku telan padahal menurut aku, aku tidak sanggup untuk menelannya, tapi aku harus tetap menelan apa yang tidak bisa ditelan.

aku, saat menelan apa yang tidak bisa ditelan, ada rasa kecewa, marah, menyesal dan rasa frustasi dalam diriku dan pada saat menelan apa yang tidak bisa ditelan aku selalu tidak bisa menahan diri untuk tidak menyakiti diriku sendiri, orang-orang disekelilingku dan lingkungan dimana aku berada.

aku, setelah menelan apa yang tidak bisa ditelan, mencoba untuk tidak kembali lagi berhadapan dengan situasi dimana aku harus menelan apa yang tidak bisa ditelan, tapi selalu saja ada saat-saat dimana aku tidak bisa menghindar dari situasi yang menyebabkan aku harus menelan apa yang tidak bisa ditelan.

aku, selalu mencari alasan untuk memaafkan diri aku sendiri karena menelan apa yang tidak bisa ditelan, aku selalu berlindung dengan alasan apa yang aku sebut ketidak-adilan yang menimpa aku, aku selalu berlindung dengan alasan apa yang aku sebut nasib kurang beruntung. ah, dengan begitu banyak alasan, aku selalu tidak bisa berdama dengan situasi saat harus menelan apa yang tidak bisa ditelan, aku selalu menyimpan rapat dihatiku, dengan rasa dendam, dengan rasa iri, dengan rasa marah.

aku, ingin sekali bisa berdamai dengan situasi saat menelan apa yang tidak bisa ditelan. aku, ingin sekali, apa yang aku telan menjadi hal yang berguna bagi aku, menjadi kekuatan bagi aku dalam menatap hari depan, dan bukannya menjadi racun bagi diriku.

pil pahit itu
jika memang harus ditelan
seharusnya
menjadi obat
menjadi hal yang berguna
pil pahit itu
jika memang harus ditelan
tidak seharusnya
menjadi racun
menjadi hal yang tidak berguna

April 18, 2008

Setia Dalam Langkah

Filed under: Diary — reditibuludji @ 7:59 pm
Tags:

Dalam artikel Andrie Wongso tentang Action Is Power , dijelaskan betapa pentingnya tindakan yang harus kita lakukan, “perjalanan seribu mil dimulai dengan langkah pertama”, harus ada tindakan awal untuk menuju suatu tujuan, walaupun tindakan itu sangat kecil, yang penting mulai melakukannya.

aku, dengan cita-citaku, dengan impianku, merasa sudah melangkah, merasa sudah melakukan langkah pertama untuk menuju apa yang aku sebut perjalanan seribu mil milikku, tapi mengapa aku tidak pernah menyelesaikan perjalanan seribu mil-ku, tak pernah aku merasa sudah sampai pada cita-citaku, pada impianku, mendekatipun aku merasa tidak pernah, selalu aku merasa telah dua langkah berjalan maju, tetapi kembali aku lima langkah berjalan mundur. aku berpikir kapan aku menyelesaikan perjalanan seribu mil-ku dan kembali melakukan perjalanan seribu mil berikutnya.

aku, merasa sangat frustasi, sangat kecewa dengan apa yang aku sebut berjalan ditempat atau berjalan mundur. adakah yang salah dari tiap satu langkahku, atau adakah yang kurang dari persiapan aku dalam memulai satu langkah ku, bagaimana aku mampu menyelesaikannya? atau aku harus melupakan perjalanan seribu mil-ku, melupakan cita-citaku, impianku.

aku, berhenti sejenak dan beristrahat, mencoba untuk berdiam, menenangkan diri dan kemudian melihat seluruh langkahku. ah, hari ini, aku menemukan jawaban kenapa aku tidak pernah dapat menyelesaikan perjalanan seribu mil-ku.

aku, tidak pernah SETIA dalam satu langkahku, ada saat dimana aku memaksa melompat tiga atau empat langkah tapi hasilnya aku mengalami penderitaan, ada saat langkahku terhenti karena jalan didepanku sangat sulit dan penuh rintangan, aku memilih untuk mencari jalan alternatif tapi hasilnya aku tersesat dalam perjalananku, ada saat aku begitu bosan dalam satu langkahku, aku mencoba untuk berganti tujuan tapi hasilnya aku tidak mendapat apa-apa

aku, hari ini, menyadari, harus setia pada satu langkah kecilku, aku harus setia untuk mengulang satu langkahku, apapun rintangan yang ada dalam perjalananku, aku harus setia pada satu langkahku, dengan itu aku akan menyelesaikan perjalanan seribu mil-ku dan dapat memulai perjalanan seribu mil yang lain.

entah itu seribu langkah
entah itu sejuta langkah
satu langkah pasti
menjadikan seribu langkah berkurang satu langkah
menjadikan sejuta langkah berkurang satu langkah
dan satu langkah lagi
dan tetap setia melakukan satu langkah
terus sampai
seribu langkah tercapai
sejuta langkah tercapai

April 14, 2008

3 Sikap

Filed under: Diary — reditibuludji @ 4:07 pm
Tags:

ada 3 sikap yang penting dalam hidup yaitu

  1. ketenangan untuk menerima segala suatu yang tidak bisa kita rubah;
  2. keberanian untuk mengubah hal-hal yang kita bisa rubah;
  3. kebijaksanaan/hikmat untuk mengetahu mana yang bisa dirubah dan mana yang tidak dapat dirubah;

aku, selalu saja tidak punya ketenangan untuk menerima sesuatu yang tidak bisa aku rubah, bersikeras mengubahnya menjadi sesuai dengan keinginan ku, aku selalu kehilangan kesabaran, menjadi begitu mudah kecewa, marah dan antipati dalam segala hal akibat aku mencoba memaksakan kehendak aku. berkali-kali aku terjebak dalam masalah yang sama karena selalu mencoba merubah sesuatu yang aku tahu aku tidak mungkin dapat merubahnya, saat aku dalam lingkungan kantor, saat aku dalam lingkungan pekerjaan, saat aku dalam pergaulan.

aku, sama sekali tidak punya keberanian, mau menempati diriku untuk berubah, tidak mempunyai keberanian untuk membuang egoku, sifat kanak-kanak, siftat keras kepalaku, sifat gampang menyakiti orang dan aku selalu tidak punya keberanian untuk mau mengubah apa yang bisa aku rubah, selalu berlindung dan bersembunyi dibalik begitu banyak alasan.

aku, sama sekali merasa tidak mempunyai kebijaksanaan/hikmat untuk mengetahui apa yang bisa aku mau rubah dan apa yang tidak bisa aku rubah.

kini, aku berdoa kepada Yang Maha Kuasa, berikan aku kebijkasanaan/hikmat tersebut, buka mata hatiku untuk bisa membedakan mana yang dapat aku rubah dan mana yang tidak dapat aku rubah, memberikan aku keberanian dan kemampuan untuk merubah apa yang harus aku rubah dan memberikan aku ketenangan dalam menerima apa yang tidak dapat aku rubah.

Tuhan, jangan buat aku seperti ini

dulu sekali
aku ingin merubah dunia
dengan tanganku dengan caraku
tapi aku gagal, ah, dunia terlalu besar untuk dirubah
kemudian
aku ingin merubah lingkungan
dengan tanganku dengan caraku
tapi aku gagal lagi, ah, lingkungan terlalu kaku menerimaku
kemudian
aku ingin merubah keluarga
dengan tanganku dengan caraku
tapi aku tetap gagal, ah, keluarga tidak suka caraku
sampai
saat akhir perjalananku
aku sadar aku harus merubah diriku

Blog at WordPress.com.