Redi Tibuludji’s Weblog

May 6, 2008

“You’ve got to find what you love,” Jobs says

Filed under: Muse — reditibuludji @ 9:12 am
Tags:

Stay Hungry. Stay Foolish.
Nasehat Steve Jobs: “Kamu Harus Temukan Apa yang Kamu Sukai” (teks asli terdapat di sini) , terjemahan bebasnya sebagai berikut:

Naskah pidato Steve Jobs, CEO Apple Computer dan Studio Animasi Pixar, dalam acara pelepasan mahasiswa Stanford, 12 Juni 2005.

Saya diberi kehormatan untuk bersama kalian di hari kelulusan kalian di salah satu universitas terbaik di dunia. Saya tidak pernah lulus kuliah. Sejujurnya, inilah saat terdekat saya terlibat dalam acara wisuda. Hari ini saya akan berbagi tiga cerita pendek hidup saya, hanya itu, cerita biasa. Hanya tiga cerita.

The first story is about connecting the dots (hubungan antara kejadian-kejadian kecil)

Saya DO dari Reed College setelah enam bulan pertama saya kuliah,, tetapi saya tetap berada di lingkugan kampus selama kurang lebih 18 bulan sebelum saya benar-benar memutuskan untuk berhenti. Mengapa saya dropout?

Ini dimulai sebelum saya lahir. Ibu kandung saya adalah seorang mahasiswi muda sebuah perguruan tinggi yang hamil di luar nikah dan dia memutuskan saya untuk diadopsi. Dia mempunyai keinginan yang kuat bahwa saya harus diadopsi oleh pasangan lulusan sebuah universitas, jadi segala sesuatunya sudah disiapkan dari awal bahwa saya akan diadopsi sejak lahir oleh seorang pengacara dan istrinya. Sialnya, begitu saya lahir, tiba-tiba mereka berubah pikiran karena ingin bayi perempuan. Maka orang tua saya sekarang, yang ada di daftar urut berikutnya, mendapatkan telepon larut malam dari seseorang: “kami punya bayi laki-laki yang batal dipungut; apakah Anda berminat? Mereka menjawab: “Tentu saja.” Ibu kandung saya lalu mengetahui bahwa ibu angkat saya tidak pernah lulus kuliah dan ayah angkat saya bahkan tidak tamat SMA. Dia menolak menandatangani perjanjian adopsi. Sikapnya baru melunak beberapa bulan kemudian, setelah orang tua saya berjanji akan menyekolahkan saya sampai perguruan tinggi.

Dan, 17 tahun kemudian saya betul-betul kuliah. Namun, dengan naifnya saya memilih universitas yang hampir sama mahalnya dengan Stanford, sehingga seluruh tabungan orang tua saya- yang hanya pegawai rendahan habis untuk biaya kuliah. Setelah enam bulan, saya tidak melihat manfaatnya. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dalam hidup saya dan bagaimana kuliah akan membantu saya menemukannya. Saya sudah menghabiskan seluruh tabungan yang dikumpulkan orang tua saya seumur hidup mereka. Maka saya pun memutuskan berhenti kuliah, yakin bahwa itu yang terbaik. Saat itu rasanya menakutkan, namun sekarang saya menganggapnya sebagai keputusan terbaik yang pernah saya ambil.

Begitu DO, saya langsung berhenti mengambil kelas wajib yang tidak saya minati dan mulai mengikuti perkuliahan yang saya sukai. Masa- masa itu tidak selalu menyenangkan. Saya tidak punya kamar kos sehingga menumpang tidur di lantai kamar teman-teman saya. Saya mengembalikan botol Coca-Cola agar dapat pengembalian 5 sen untuk membeli makanan. Saya berjalan 7 mil melintasi kota setiap Minggu malam untuk mendapat makanan enak di biara Hare Krishna. Saya menikmatinya. Dan banyak yang saya temui saat itu karena mengikuti rasa ingin tahu dan intuisi, ternyata kemudian sangat berharga. Saya beri Anda satu contoh: Reed College mungkin waktu itu adalah yang terbaik di AS dalam hal kaligrafi. Di seluruh penjuru kampus, setiap poster, label, dan petunjuk ditulis tangan dengan sangat indahnya. Karena sudah DO, saya tidak harus mengikuti perkuliahan normal. Saya memutuskan mengikuti kelas kaligrafi guna mempelajarinya. Saya belajar jenis-jenis huruf serif dan san serif, membuat variasi spasi antar kombinasi kata dan kiat membuat tipografi yang hebat. Semua itu merupakan kombinasi cita rasa keindahan, sejarah dan seni yang tidak dapat dijelaskan melalui sains. Sangat menakjubkan.

Saat itu sama sekali tidak terlihat manfaat kaligrafi bagi kehidupan saya. Namun sepuluh tahun kemudian, ketika kami mendisain komputer Macintosh yang pertama, ilmu itu sangat bermanfaat. Mac adalah komputer pertama yang bertipografi cantik. Seandainya saya tidak DO dan mengambil kelas kaligrafi, Mac tidak akan memiliki sedemikian banyak huruf yang beragam bentuk dan proporsinya. Dan karena Windows menjiplak Mac, maka tidak ada PC yang seperti itu. Andaikata saya tidak DO, saya tidak berkesempatan mengambil kelas kaligrafi, dan PC tidak memiliki tipografi yang indah. Tentu saja, tidak mungkin merangkai cerita seperti itu sewaktu saya masih kuliah. Namun, sepuluh tahun kemudian segala sesuatunya menjadi gamblang.

*Sekali lagi, Anda tidak akan dapat merangkai/menghubungkan titik/kejadian-kejadian tersebut dengan melihat ke depan; Anda hanya bisa melakukannya dengan merenung ke belakang*. Jadi, Anda harus percaya bahwa titik-titik Anda bagaimana pun akan terangkai di masa mendatang. Anda harus percaya dengan intuisi, takdir, jalan hidup, karma Anda, atau apapun istilah lainnya. Pendekatan ini efektif dan membuat banyak perbedaan dalam kehidupan saya.

My second story is about love and loss.

Saya beruntung karena tahu apa yang saya sukai sejak masih muda. Woz dan saya mengawali Apple di garasi orang tua saya ketika saya berumur 20 tahun. Kami bekerja keras dan dalam 10 tahun Apple berkembang dari hanya kami berdua menjadi perusahaan 2 milyar dolar dengan 4000 karyawan. Kami baru meluncurkan produk terbaik kami -Macintosh- satu tahun sebelumnya, dan saya baru menginjak usia 30. Dan saya dipecat. Bagaimana mungkin Anda dipecat oleh perusahaan yang Anda dirikan? Yah, itulah yang terjadi. Seiring pertumbuhan Apple, kami merekrut orang yang saya pikir sangat berkompeten untuk menjalankan perusahaan bersama saya. Dalam satu tahun pertama,semua berjalan lancar. Namun, kemudian muncul perbedaan dalam visi kami mengenai masa depan dan kami sulit disatukan. Komisaris ternyata berpihak padanya. Demikianlah, di usia 30 saya tertendang. Beritanya ada di mana-mana. Apa yang menjadi fokus sepanjang masa dewasa saya, tiba-tiba sirna. Sungguh menyakitkan.

Dalam beberapa bulan kemudian, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Saya merasa telah mengecewakan banyak wirausahawan generasi sebelumnya, saya gagal mengambil kesempatan. Saya bertemu dengan David Packard dan Bob Noyce dan meminta maaf atas keterpurukan saya. Saya menjadi tokoh publik yang gagal, dan bahkan berpikir untuk lari dari Silicon Valley. Namun, sedikit demi sedikit semangat timbul kembali, saya masih menyukai pekerjaan saya. Apa yang terjadi di Apple sedikit pun tidak mengubah saya. Saya telah ditolak, namun saya tetap cinta. Maka, saya putuskan untuk mulai lagi dari awal.

Waktu itu saya tidak melihatnya, namun belakangan baru saya sadari bahwa dipecat dari Apple adalah kejadian terbaik yang menimpa saya. Beban berat sebagai orang sukses tergantikan oleh keleluasaan sebagai pemula, segala sesuatunya lebih tidak jelas. Hal itu mengantarkan saya pada periode paling kreatif dalam hidup saya.

Dalam lima tahun berikutnya, saya mendirikan perusahaan bernama NeXT, lalu Pixar, dan jatuh cinta dengan wanita istimewa yang kemudian menjadi istri saya. Pixar bertumbuh menjadi perusahaan yang menciptakan film animasi komputer pertama, Toy Story, dan sekarang merupakan studio animasi paling sukses di dunia. Melalui rangkaian peristiwa yang menakjubkan, Apple membeli NeXT, dan saya kembali lagi ke Apple, dan teknologi yang kami kembangkan di NeXT menjadi jantung bagi kebangkitan kembali Apple. Dan, Laurene dan saya memiliki keluarga yang luar biasa.

Saya yakin takdir di atas tidak terjadi bila saya tidak dipecat dari Apple. Obatnya memang pahit, namun sebagai pasien saya memerlukannya. *Kadangkala kehidupan menimpakan batu ke kepala Anda. Jangan kehilangan kepercayaan.* Saya yakin bahwa satu-satunya yang membuat saya terus berusaha adalah karena saya menyukai apa yang saya lakukan. Anda harus menemukan apa yang Anda sukai. Itu berlaku baik untuk pekerjaan maupun pasangan hidup Anda. *Pekerjaan Anda akan menghabiskan sebagian besar hidup Anda, dan kepuasan sejati hanya dapat diraih dengan mengerjakan sesuatu yang hebat. Dan Anda hanya bisa hebat bila mengerjakan apa yang Anda sukai*. Bila Anda belum menemukannya, teruslah mencari. Jangan menyerah. Hati Anda akan mengatakan bila Anda telah menemukannya. Sebagaimana halnya dengan hubungan hebat lainnya, semakin lama- semakin mesra Anda dengannya. Jadi, teruslah mencari sampai ketemu. Jangan berhenti.

My third story is about death.

Ketika saya berumur 17, saya membaca ungkapan yang kurang lebih berbunyi: “Bila kamu menjalani hidup seolah-olah hari itu adalah hari terakhirmu, maka suatu hari kamu akan benar.” Ungkapan itu membekas dalam diri saya, dan semenjak saat itu, selama 33 tahun terakhir, saya selalu melihat ke cermin setiap pagi dan bertanya kepada diri sendiri: “Bila ini adalah hari terakhir saya, apakah saya tetap melakukan apa yang akan saya lakukan hari ini?” Bila jawabannya selalu “tidak” dalam beberapa hari berturut-turut, saya tahu saya harus berubah.

Mengingat bahwa saya akan segera mati adalah kiat penting yang saya temukan untuk membantu membuat keputusan besar. Karena hampir segala sesuatu-semua harapan eksternal, kebanggaan, takut, malu atau gagal-tidak lagi bermanfaat saat menghadapi kematian. Hanya yang hakiki yang tetap ada. Mengingat kematian adalah cara terbaik yang saya tahu untuk menghindari jebakan berpikir bahwa Anda akan kehilangan sesuatu. Anda tidak memiliki apa-apa. Sama sekali tidak ada alasan untuk tidak mengikuti kata hati Anda.

Sekitar setahun yang lalu saya didiagnosis mengidap kanker. Saya menjalani scan pukul 7:30 pagi dan hasilnya jelas menunjukkan saya memiliki tumor pankreas. Saya bahkan tidak tahu apa itu pankreas. Para dokter mengatakan kepada saya bahwa hampir pasti jenisnya adalah yang tidak dapat diobati. Harapan hidup saya tidak lebih dari 3-6 bulan. Dokter menyarankan saya pulang ke rumah dan membereskan segala sesuatunya, yang merupakan sinyal dokter agar saya bersiap mati. Artinya, Anda harus menyampaikan kepada anak Anda dalam beberapa menit segala hal yang Anda rencanakan dalam sepuluh tahun mendatang. Artinya, memastikan bahwa segalanya diatur agar mudah bagi keluarga Anda. Artinya, Anda harus mengucapkan selamat tinggal.

Sepanjang hari itu saya menjalani hidup berdasarkan diagnosis tersebut. Malam harinya, mereka memasukkan endoskopi ke tenggorokan, lalu ke perut dan lambung, memasukkan jarum ke pankreas saya dan mengambil beberapa sel tumor. Saya dibius, namun istri saya, yang ada di sana, mengatakan bahwa ketika melihat selnya di bawah mikroskop, para dokter menangis mengetahui bahwa jenisnya adalah kanker pankreas yang sangat jarang, namun bisa diatasi dengan operasi. Saya dioperasi dan sehat sampai sekarang.

Itu adalah rekor terdekat saya dengan kematian dan berharap terus begitu hingga beberapa dekade lagi. Setelah melalui pengalaman tersebut, sekarang saya bisa katakan dengan yakin kepada Anda bahwa menurut konsep pikiran, kematian adalah hal yang berguna:

Tidak ada orang yang ingin mati. Bahkan orang yang ingin masuk surga pun tidak ingin mati dulu untuk mencapainya. Namun, kematian pasti menghampiri kita. Tidak ada yang bisa mengelak. Dan, memang harus
demikian, karena kematian adalah buah terbaik dari kehidupan. Kematian membuat hidup berputar. Dengannya maka yang tua menyingkir untuk digantikan yang muda. Maaf bila terlalu dramatis menyampaikannya, namun memang begitu.

Waktu Anda terbatas, jadi jangan sia-siakan dengan menjalani hidup orang lain. Jangan terperangkap dengan dogma-yaitu hidup bersandar pada hasil pemikiran orang lain. Jangan biarkan omongan orang menulikan Anda sehingga tidak mendengar kata hati Anda. Dan yang terpenting, miliki keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisi Anda, maka Anda pun akan sampai pada apa yang Anda inginkan. Semua hal lainnya hanya nomor dua.

Ketika saya masih muda, ada satu penerbitan hebat yang bernama “The Whole Earth Catalog”, yang menjadi salah satu buku pintar generasi saya. Buku itu diciptakan oleh seorang bernama Stewart Brand yang tinggal
tidak jauh dari sini di Menlo Park, dan dia membuatnya sedemikian menarik dengan sentuhan puitisnya. Waktu itu akhir 1960- an, sebelum era komputer dan desktop publishing, jadi semuanya dibuat dengan mesin tik, gunting, dan kamera polaroid. Mungkin seperti Google dalam bentuk kertas, 35 tahun sebelum kelahiran Google: isinya padat dengan tips-tips ideal dan ungkapan-ungkapan hebat. Stewart dan timnya sempat menerbitkan beberapa edisi “The Whole Earth Catalog”, dan ketika mencapai titik ajalnya, mereka membuat edisi terakhir. Saat itu pertengahan 1970-an dan saya masih seusia Anda. Di sampul belakang edisi terakhir itu ada satu foto jalan pedesaan di pagi hari, jenis yang mungkin Anda lalui jika suka bertualang. Di bawahnya ada kata-kata: “*Stay Hungry. Stay Foolish.*” (Tetaplah Lapar. Selalu Merasa Bodoh). Itulah pesan perpisahan yang dibubuhi tanda tangan mereka. Stay Hungry. Stay Foolish. Saya selalu mengharapkan diri saya begitu. Dan sekarang, karena Anda akan lulus untuk memulai kehidupan baru, saya harapkan Anda juga begitu.

April 23, 2008

Menelan Apa Yang Tidak Bisa Ditelan

Filed under: Diary — reditibuludji @ 10:33 pm
Tags:

Sesaat setelah Arsenal tersingkir dari Liga Champions 2007/2008, Arsene Wenger mencoba mengungkapkan apa yang dirasakan saat itu denagn mengatakan bahwa “Dalam sepakbola terkadang Anda harus menelan apa yang tidak bisa ditelan“(sumber: detik.com).

aku, dalam kehidupanku ini, kadang kala berhadapan dengan apa yang aku sebut pil pahit yang harus aku telan padahal menurut aku, aku tidak sanggup untuk menelannya, tapi aku harus tetap menelan apa yang tidak bisa ditelan.

aku, saat menelan apa yang tidak bisa ditelan, ada rasa kecewa, marah, menyesal dan rasa frustasi dalam diriku dan pada saat menelan apa yang tidak bisa ditelan aku selalu tidak bisa menahan diri untuk tidak menyakiti diriku sendiri, orang-orang disekelilingku dan lingkungan dimana aku berada.

aku, setelah menelan apa yang tidak bisa ditelan, mencoba untuk tidak kembali lagi berhadapan dengan situasi dimana aku harus menelan apa yang tidak bisa ditelan, tapi selalu saja ada saat-saat dimana aku tidak bisa menghindar dari situasi yang menyebabkan aku harus menelan apa yang tidak bisa ditelan.

aku, selalu mencari alasan untuk memaafkan diri aku sendiri karena menelan apa yang tidak bisa ditelan, aku selalu berlindung dengan alasan apa yang aku sebut ketidak-adilan yang menimpa aku, aku selalu berlindung dengan alasan apa yang aku sebut nasib kurang beruntung. ah, dengan begitu banyak alasan, aku selalu tidak bisa berdama dengan situasi saat harus menelan apa yang tidak bisa ditelan, aku selalu menyimpan rapat dihatiku, dengan rasa dendam, dengan rasa iri, dengan rasa marah.

aku, ingin sekali bisa berdamai dengan situasi saat menelan apa yang tidak bisa ditelan. aku, ingin sekali, apa yang aku telan menjadi hal yang berguna bagi aku, menjadi kekuatan bagi aku dalam menatap hari depan, dan bukannya menjadi racun bagi diriku.

pil pahit itu
jika memang harus ditelan
seharusnya
menjadi obat
menjadi hal yang berguna
pil pahit itu
jika memang harus ditelan
tidak seharusnya
menjadi racun
menjadi hal yang tidak berguna

April 18, 2008

Setia Dalam Langkah

Filed under: Diary — reditibuludji @ 7:59 pm
Tags:

Dalam artikel Andrie Wongso tentang Action Is Power , dijelaskan betapa pentingnya tindakan yang harus kita lakukan, “perjalanan seribu mil dimulai dengan langkah pertama”, harus ada tindakan awal untuk menuju suatu tujuan, walaupun tindakan itu sangat kecil, yang penting mulai melakukannya.

aku, dengan cita-citaku, dengan impianku, merasa sudah melangkah, merasa sudah melakukan langkah pertama untuk menuju apa yang aku sebut perjalanan seribu mil milikku, tapi mengapa aku tidak pernah menyelesaikan perjalanan seribu mil-ku, tak pernah aku merasa sudah sampai pada cita-citaku, pada impianku, mendekatipun aku merasa tidak pernah, selalu aku merasa telah dua langkah berjalan maju, tetapi kembali aku lima langkah berjalan mundur. aku berpikir kapan aku menyelesaikan perjalanan seribu mil-ku dan kembali melakukan perjalanan seribu mil berikutnya.

aku, merasa sangat frustasi, sangat kecewa dengan apa yang aku sebut berjalan ditempat atau berjalan mundur. adakah yang salah dari tiap satu langkahku, atau adakah yang kurang dari persiapan aku dalam memulai satu langkah ku, bagaimana aku mampu menyelesaikannya? atau aku harus melupakan perjalanan seribu mil-ku, melupakan cita-citaku, impianku.

aku, berhenti sejenak dan beristrahat, mencoba untuk berdiam, menenangkan diri dan kemudian melihat seluruh langkahku. ah, hari ini, aku menemukan jawaban kenapa aku tidak pernah dapat menyelesaikan perjalanan seribu mil-ku.

aku, tidak pernah SETIA dalam satu langkahku, ada saat dimana aku memaksa melompat tiga atau empat langkah tapi hasilnya aku mengalami penderitaan, ada saat langkahku terhenti karena jalan didepanku sangat sulit dan penuh rintangan, aku memilih untuk mencari jalan alternatif tapi hasilnya aku tersesat dalam perjalananku, ada saat aku begitu bosan dalam satu langkahku, aku mencoba untuk berganti tujuan tapi hasilnya aku tidak mendapat apa-apa

aku, hari ini, menyadari, harus setia pada satu langkah kecilku, aku harus setia untuk mengulang satu langkahku, apapun rintangan yang ada dalam perjalananku, aku harus setia pada satu langkahku, dengan itu aku akan menyelesaikan perjalanan seribu mil-ku dan dapat memulai perjalanan seribu mil yang lain.

entah itu seribu langkah
entah itu sejuta langkah
satu langkah pasti
menjadikan seribu langkah berkurang satu langkah
menjadikan sejuta langkah berkurang satu langkah
dan satu langkah lagi
dan tetap setia melakukan satu langkah
terus sampai
seribu langkah tercapai
sejuta langkah tercapai

April 14, 2008

3 Sikap

Filed under: Diary — reditibuludji @ 4:07 pm
Tags:

ada 3 sikap yang penting dalam hidup yaitu

  1. ketenangan untuk menerima segala suatu yang tidak bisa kita rubah;
  2. keberanian untuk mengubah hal-hal yang kita bisa rubah;
  3. kebijaksanaan/hikmat untuk mengetahu mana yang bisa dirubah dan mana yang tidak dapat dirubah;

aku, selalu saja tidak punya ketenangan untuk menerima sesuatu yang tidak bisa aku rubah, bersikeras mengubahnya menjadi sesuai dengan keinginan ku, aku selalu kehilangan kesabaran, menjadi begitu mudah kecewa, marah dan antipati dalam segala hal akibat aku mencoba memaksakan kehendak aku. berkali-kali aku terjebak dalam masalah yang sama karena selalu mencoba merubah sesuatu yang aku tahu aku tidak mungkin dapat merubahnya, saat aku dalam lingkungan kantor, saat aku dalam lingkungan pekerjaan, saat aku dalam pergaulan.

aku, sama sekali tidak punya keberanian, mau menempati diriku untuk berubah, tidak mempunyai keberanian untuk membuang egoku, sifat kanak-kanak, siftat keras kepalaku, sifat gampang menyakiti orang dan aku selalu tidak punya keberanian untuk mau mengubah apa yang bisa aku rubah, selalu berlindung dan bersembunyi dibalik begitu banyak alasan.

aku, sama sekali merasa tidak mempunyai kebijaksanaan/hikmat untuk mengetahui apa yang bisa aku mau rubah dan apa yang tidak bisa aku rubah.

kini, aku berdoa kepada Yang Maha Kuasa, berikan aku kebijkasanaan/hikmat tersebut, buka mata hatiku untuk bisa membedakan mana yang dapat aku rubah dan mana yang tidak dapat aku rubah, memberikan aku keberanian dan kemampuan untuk merubah apa yang harus aku rubah dan memberikan aku ketenangan dalam menerima apa yang tidak dapat aku rubah.

Tuhan, jangan buat aku seperti ini

dulu sekali
aku ingin merubah dunia
dengan tanganku dengan caraku
tapi aku gagal, ah, dunia terlalu besar untuk dirubah
kemudian
aku ingin merubah lingkungan
dengan tanganku dengan caraku
tapi aku gagal lagi, ah, lingkungan terlalu kaku menerimaku
kemudian
aku ingin merubah keluarga
dengan tanganku dengan caraku
tapi aku tetap gagal, ah, keluarga tidak suka caraku
sampai
saat akhir perjalananku
aku sadar aku harus merubah diriku

Blog at WordPress.com.